The Value of Being Different

 

tumblr_odtpk2Q2VT1vrx75do1_500

Being different, what’s the matter? dalam kehidupan sosial mungkin seseorang yang tampak berbeda menjadi salah satu aspek yang menarik perhatian untuk dibicarakan, dikomentari ataupun lebih parahnya lagi dijadikan bahan ejekan dan munculah ungkapan-ungkapan berbau diskriminasi. Tampak berbeda mungkin bisa sesuatu yang positif dan diperlakukan lebih istimewa daripada yang lain. Sebenarnya menurut aku pribadi, mungkin lebih indah ketika kita bisa memperlakukan satu dengan yang lainnya sama dan tidak membeda-bedakan apapun itu alasannya. Setuju gak?

Kali ini aku bakal berbagi sedikit pengalaman yang mungkin sudah memberikan banyak perubahan buat pribadi aku sendiri saat ini. Semoga kita bisa selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki.

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni’mat)-Ku.“ (QS. 2:152)

Pada tahun 1995 bulan Desember aku lahir dari Rahim seorang ibu yang sangat luar biasa. Tapi, mungkin tidak seperti yang dialami oleh orang-orang pada umumnya. Dibandingkan dengan ketiga kakak-ku yang lahir di bidan dengan lancarnya, aku lahir di sebuah rumah sakit dengan kesulitan yang luar biasa. Dokter yang pada saat itu membantu persalinan merasa kesulitan dan gak sabar sehingga perlu untuk “digunting”, di vacuum dan sebagainya. Setelahnya, lahirlah aku!

Beberapa lama setelah kelahiran aku ini, nenek menyadari ada sesuatu yang berbeda dimana tangan kiri-ku gak seaktif tangan kanan. Ternyata pada saat proses persalinan, tangan kiri-ku ditarik oleh dokter dan mungkin lumayan kencang sehingga membuat kerangka tangan bayi yang masih rentan itu berubah posisi. Yang membuat sedih adalah dokter tersebut menutupi kecelakaan itu dan tidak bertanggung jawab.

Singkat cerita, kejadian itu buat aku gak bisa ngelakuin banyak hal karena aku gak bisa menggunakan kedua tangan dengan baik. Saat masa pertumbuhan, aku sering sekali ngga ikut senam di sekolah sama anak-anak lainnya karena aku ngga bisa ngikutin gerakan instrukturnya, gak bisa ngelurusin tangan, gak bisa angkat tangan ke atas, pokoknya susah. Dan yang paling membekas bukanlah kesulitan itu, tapi perlakuan teman-teman yang membeda-bedakan. “Kok kamu ngga ikutan sih? ngga bisa yaaaa?” atau “Nih liat kaya gini bisa gak?” itu adalah contoh dari entah berapa kalimat yang keluar dari teman sekeliling saat itu. Bahkan pernah terlontar kata “cacat” yang mungkin merupakan kosakata terjahat untuk mendeskripsikan seseorang. Sampai SD, aku masih belajar buat pegang gelas sendiri, pakai baju sendiri, apa-apa masih dibantu.

Disamping itu, perjuangan untuk sembuh terus dilakuin. Dari mulai pengobatan medis sampai tradisional sudah pernah dicoba. Dari alat-alat medis yang bikin sakit sampai obat tradisional yang bentuk dan bau-nya aneh pernah dicoba. Perjalanan ini pun banyak rintangannya, ada yang belum apa-apa susternya malah ngetawain (lucu kali ya tangannya?), ada dokter yang bilang harus dioperasi dan dibenarkan posisinya tapi gak yakin juga berhasil atau ngga. Karena mungkin sangat riskan, bukan seperti patah tulang yang biasanya di gips terus sembuh. Tapi posisi nya berubah dari pundak dan banyak syaraf & otot yang ketarik buat tanganku bengkok dan terlihat lebih pendek, susah banget digerakin dan rasanya : basa sundanya baal (apa yah bhs. indo nya? haha) gak bisa ngerasain sepeka kulit biasanya.

Mungkin teman-teman sekolah berangkat dan bangun pagi seperti biasa. Dulu, subuh-subuh sebelum sekolah aku ada di rumah dokter buat terapi, baru setelah itu berangkat sekolah. Atau pada malam hari sampai subuh. Kerjaannya terapi, sampai sering sedih dan bosen. Pernah ngalamin terapi dimana sampai bikin aku teriak-teriak kesakitan karena panas banget. Sampai di sekolah malah diejek. Tapi berfikir positifnya, mereka ngga tahu apa yang terjadi sebenarnya. Walaupun bikin sakit hati saat itu, aku biarin aja.

It’s not easy being different. Being different means that you don’t blend in completely with the status quo. It means that you don’t perfectly fit in to the everyday jigsaw of life. It means that what works for and applies to others does not always work for or apply to you.

But then I didn’t stop struggling.

Walaupun tidak sempurna, alhamdulillah sekarang sudah banyak sekali yang bisa aku lakuin sendiri dengan tangan ini. Kewajiban kita hanya bersyukur, ikhtiar dan sabar. Mungkin ini hanya sebagian kecil cerita dari ribuan cerita orang yang mengalami hal yang lebih berat. Semoga cukup untuk membuat lebih bersyukur dan lebih respect terhadap keadaan orang lain.

I’ve learned a lot. I’ve learned that everything does happen for a reason. I’ve learned that everyone I’ve met has helped me to grow & learn in some way, whether they’ve been there as support or to make my life a living hell, it still helped me learn. I’ve learned to suck it up, keep my head up!

Don’t be lazy and make judgments about people. No matter what happens in life, be nice to people. Being nice to people is a peaceful way to live. Let’s have more acceptance.

Bagi siapapun yang merasa minder atau berbeda, you’re beautifully different. No one in this world is worthless. Bangga dan bersyukurlah dengan apa yang kamu miliki saat ini 🙂

Moins de jugements, plus tolérants, prêts à écouter

tumblr_ojxvxg2YCD1vxyqvko1_500

Ouais, on est très au courant que les peuples dans notre société portent des jugements pour tout. Surtout en Indonésie, ces comportements sont de plus en plus forts et cela pourrait extrêmement montrer certaines conséquences. La majorité s’habitue à juger dans n’importe quel aspect et ça gaspille vraiment le temps. En tant que jeune qui vit dans ce type de la société, j’ai déjà porté des jugements mois aussi. Mais après avoir trouvé beaucoup d’inconvénients, je préfère analyser silencieusement au lieu de m’exprimer tout de suite afin de pouvoir respecter les autres car nous ne savons pas exactement une telle chose. Et donc, je m’efforce de diminuer cette habitude négative.

Ça ne vaut pas la peine de commenter les autres car chacun devrait prendre en charge en tous ce qui concerne ses décisions. En plus, ça ne nous dérange pas quand-même. La façon dont vous parlez, comment vous vous habillez, vos affaires et tout ça, cela montrerait des préjugés. Quoi que l’on dise de vous, soyez vous-mêmes 🙂 ! Mais à condition que nous puissions bien respecter le territoire d’autrui.

En outre, sous-estimer est l’un des effets négatifs que j’ai déjà trouvé. C’est franchement dommage mais je vous assure que notre niveau de penser s’améliorait car il se trouvera beaucoup d’obstacles dans notre vie. Ça nous rendra plus sages et d’après moi, less judging will make you happier ! En plus, chacun a ses points forts et ses domaines à développer. Let’s be positive !